Peranan Desainer Grafis dalam Produksi Cetak

Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari keterlibatan seni.
Perkembangan seni itu sendiri seiring dengan perjalanan peradaban
manusia. Peranan seni dalam kehidupan yang semakin modern sangat
dibutuhkan. Sentuhan seni yang mendalam dapat menjadikan sesuatu
menjadi lebih indah, berarti, dan sangat bernilai. Naluri manusia akan
menjadi lebih manusiawi jika seni ditempatkan sebagai anugerah Tuhan
yang maha agung.
Benda-benda yang digunakan atau dimanfaatkan manusia untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya pakaian, rumah, barang
cetakan, alat transportasi, dan lain-lain, kesemuanya dibuat dengan
melibatkan pertimbangan-pertimbangan seni. Seni merupakan kegiatan
kreatif manusia untuk manusia yang dalam penciptaan atau
perwujudannya dapat secara individual atau diperlukan orang lain. Hasil
karya itu bersifat sosial ketika hasil karya seni tersebut dinikmati oleh
khalayak.
Seni rupa yang merupakan cabang dari seni yang
membutuhkan tempat dan tahan akan
waktu, di dalam perwujudannya
memakai medium, yaitu :
a. DwiMatra, meliputi: seni lukis,
seni dekorasi, seni ilustrasi,
seni reklame, dan seni grafis.
b. TriMatra, meliputi: seni patung, seni kerajinan, dan seni arsitektur.
Proses kreatif seorang seniman, khususnya seniman grafis sangat
dibutuhkan untuk dapat menghasilkan suatu produk yang dapat
memuaskan keinginan konsumen. Hal ini sesuai dengan manfaat bidang
ilmu grafika. Pada perkembangannya seorang ilustrator yang dengan
kelihaian tangannya menggambar atau melukis diatas media kertas,
kain, kanvas atau yang lainnya akan lebih maksimal ketika dapat
mengekplorasi kreativitasnya melalui media komputer. Ilustrator adalah
sebutan untuk orang yang mempunyai keahlian membuat ilustrasi.
Fenomena seperti ini menjadi sebuah kebutuhan industri grafika masa
depan. Dengan kemampuan multi talenta, seorang ilustrator dapat
mengkolaborasikan seni murni menjadi seni terapan yang harus
dikomunikasikan kepada khalayak sebagai media massa.
Ilustrator yang baik akan mencoba memahami dengan seksama,
visi, misi, dan tujuan serta fungsi dari barang cetakan yang akan di
produksi. Sehingga produk yang dihasilkan mencerminkan kesatuan
harmonis antara ilustrasi dan isi, yang pada gilirannya barang cetakan
tersebut dapat diterima oleh masyarakat. Ilustrator yang mempunyai
kemampuan untuk dapat menuangkan keahliannya melalui media
komputer disertai kemampuan teknisnya dibidang perwajahan barang
cetakan dapat disebut juga sebagai seorang desainer grafis. Yang
membedakan, seorang desainer grafis belum tentu pandai membuat
ilustrasi sehingga belum bisa disebut sebagai seorang ilustrator.
Desain berasal dari bahasa Latin, designare atau bahasa Inggris,
design yang berarti rancangan. Yustiono dalam Sachari (1986 : 22),
menyatakan istilah desain berasal dari bahasa Perancis, dessiner yang
berarti menggambar dan kadang-kadang diartikan juga perancangan,
bahkan ada kecenderungan yang menunjukkan bahwa bidang desain
itu meliputi cara penanganan berbagai bidang; antara lain seni kerajinan,
kekriyaan, dan teknologi.
Pengertian desain bukan semata-mata mengupas persoalan
gambar- menggambar dalam perencanaan total, dalam arti bukan hanya
melihat perencanaan dari sudut tertentu, namun secara menyeluruh,
mulai dari yang paling dasar sampai pada tahap penyelesaian.
Merancang menurut Wong (1986 : 27) ialah proses mencipta rupa untuk
maksud tertentu dengan pemenuhan kebutuhan penggunaannya.
Dinyatakan pula bahwa karya rancang yang baik ialah ungkapan rupa
yang sebaik-baiknya, sari pati sesuatu, entah sesuatu itu pesan atau
kiasan untuk membuatnya tepat dan skill seorang perancang harus
mencari cara terbaik agar sesuatu itu dapat dibentuk, dibuat, disebarkan,
digunakan, dan dihasilkan dengan lingkungan serta mencerminkan dan
memadukan selera jaman.
Menurut Sachari (1986 : 53), perencanaan yang baik disesuaikan
dengan tujuan untuk apa desain itu dibuat. Ada dua hal yang pokok yang
perlu diamati dalam suatu perencanaan yaitu segi psikologi dan biologi.
Segi psikologi yaitu pemenuhan yang berkaitan dengan rasa aman,
senang, nyaman, bahagia, damai, tenteram dan sebagainya. Segi
biologis yaitu pemenuhan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan indra
peraba, rasa, penglihatan dan keselamatan tubuh manusia. Lebih lanjut
Sachari (1986 : 149-150) menjelaskan perencanaan yang baik
didalamnya juga mencakup beberapa tahapan, yaitu :
(1) tahap pertama adalah proses yang ditentukan oleh besar kecilnya
ruang lingkup desain,
(2) tahapan kedua menyusun program, yang didasarkan pada riset
terhadap pasar untuk selanjutnya dituangkan dalam konsep atau
deskripsi yang sistematis dan jelas. Tahapan penyusunan program
pada prinsipnya merupakan skenario ke arah langkah-langkah
desain yang hendak dilakukan,
(3) tahapan ketiga merupakan tahapan yang memvisualisasikan proses
dan program di atas yang berupa sketsa yang dilanjutkan dengan
memberi arti fungsi, selanjutnya merangkul suatu totalitas dari
pemahaman ergonomik, teknik ekonomi, dan estetikanya. Pada
bagian lain Sachari (1986 : 23) menyatakan bahwa desain sebagai
suatu kegiatan manusia untuk menciptakan lingkungan dan
khasanah perbendaan buatan yang diolah dari alam, khasanah ini
kemudian sejalan dengan waktu yang selalu berubah dan penuh
diwarnai inovasi-inovasi untuk menciptakan kehidupan budayanya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan pengertian desain
secara umum ialah (1) perancangan, (2) gambar rencana, (3) gambar
untuk merencanakan sesuatu, (4) rancangan sesuatu karya, (5) konsep
atau rancangan. Sedangkan desain dalam arti khusus ada kaitannya
dengan kegunaan benda.
Istilah Grafis berasal dari bahasa Yunani “graphein” yang berarti
menulis atau menggambar. Seni (cetak) grafis merupakan penggubahan
gambar bebas karya perupa menjadi cetakan, yang melalui proses
manual dan menggunakan material tertentu, dengan tujuan membuat
perbanyakan karya dalam jumlah tertentu ( Susanto, 2002 : 47). Dalam
perkembangannya grafis diartikan sebagai penataan media komunikasi
secara cetak-mencetak dengan cita rasa keindahan ( Effendy, 1989 :
154 ).



  • READ MORE.......



  • Teknik Grafika dan Industri Grafika
    Antonius Bowo Wasono


    Untuk langkah demi langkah illustrator simple tutorial silahkan kunjungi :

    www.illustratorsimpletutorial.blogspot.com

    Batas densitometry

    Seperti halnya teknik pemisahan warna, kerja densitometer dengan
    setelan filter untuk memproses empat warna. Alat ini menyediakan nilai
    relatif untuk ketebalan film tinta, yakni, alat ini tidak mengukur
    penampilan optik pada warna.
    Fakta ini mengatur batas tertentu untuk aplikasinya, tabel tersebut
    merupakan daftar bidang aplikasi khusus dibandiingkan dengan
    colorimeter tristimulus dan spectrophotometer.
    Satu kekurangan esensial yang dimiliki oleh densitometer adalah
    bahwa kekentalan warna yang sama tidak memicu kesan optik yang
    sama. Inilah alasan ketika substansi warna yang dibandingkan berbeda
    dari satu sama lain. Sehingga nilai setelannya tidak dapat
    dilakukan/didapat dari cetakan percobaan ataupun dari sampel lainnya.
    Restriksi/pembatasan untuk tiga filter warna yakni merah, hijau dan
    biru adalah sama pentingnya. Ketika pengaturan warna dibandingkan
    dengan lebih dari empat warna yang diproses, pengukuran warna
    tambahan menjadi problematika. Dalam beberapa kasus tidak terdapat
    filter yang sesuai untuk warna-warna tambahan, sebagai hasilnya
    dimana pengukuran nilai untuk kekentalan tinta terlalu rendah dan
    pengukuran nilai untuk dot gain tidak benar/salah.
    Kegunaan densitometer juga sangat penting untuk mengontrol
    warna pada basis potongan halftone multiwarna seperti potongan
    keseimbangan abu-abu. Jika potongan keseimbangan abu-abu diukur
    dengan tiga filter warna maka kekentalan tinta yang dihasilkan akan
    berbeda dari nilai yang dihasilkan ketika setiap warna diukur sendiri. Ini
    karena masing-masing ketiga tinta cetak berkontribusi untuk semua
    kekentalan tinta. Alasan untuk hal ini adalah bahwa warna yang diproses
    tidak sempurna dua pertiga tinta dan juga menyerap cahaya dari jarak
    spektral lainnya.
    Densitometer juga berguna dalam memonitor proses cetak pada
    mencetak empat warna. Dalam beberapa kasus densitometer
    penggunaannya terbatas.
    Dua contoh berikut ini mengilustrasikan bagaimana warna-warna
    tambahan diukur dengan sebuah densitometer.
    Corak (warna antara abu-abu dan coklat ) yang terlihat disini –
    mempunyai pemantulan yang relatif tinggi, sedikit menurun dalam jarak
    biru (380 hingga 500 nm). Karena itu, nilai kekentalan yang tertinggi
    (0,17) diukur dengan filter biru. Nilai yang rendah ini tidak dapat diubah
    dengan mudah karena perubahan dalam ketebalan film tinta hanya
    memicu pergeseran yang tidak signifikan pada kekentalan. Dalam
    prakteknya warna-warna pastel bersinar/bercahaya oleh karena itu
    diukur secara visual pada basis lembaran yang bagus dan secara
    manual benar.
    Warna-warna tambahan HKS 8 dan HKS 65 yang terlihat dalam
    contoh kedua benar-benar coraknya berbeda seperti yang dapat terlihat
    dari kurva pemantulan (lihat gambar 2.54). Untuk kedua warna itu
    penyerapan pada jarak biru (380 hingga 500 nm) adalah yang paling
    besar. Sebagai hasilnya, kekentalan tertinggi (1,60 untuk warna itu)
    diukur dengan filter biru. Nilai kekentalan yang sama diukur dengan filter
    yang sama sehingga tidak perlu mengartikan bahwa corak tersebut
    adalah sama!
    Penampilan warna itu dapat juga hanya dievaluasi secara colorimetric.





  • READ MORE.......




  • Teknik Grafika dan Industri Grafika
    Antonius Bowo Wasono





    for more details and updates about graphics design please visit.........

    www.graphicsdesignsimple.blogspot.com

    Karakteristik cetakan

    Deviasi nilai halftone dalam cetakan FD terhadap nilai halftone FF dalam film dapat ditunjukkan dengan jelas untuk penggunaan langsung pada kerja/karya yang diulang-ulang dalam bentuk yang disebut dengan karakteristik cetakan.
    Untuk menentukan karakteristik cetakan, skala tahapan kasa minimal tiga, atau bahkan lebih baik lima atau lebih tahapan kasa dan
    elemen tambahan keras/tajam yang dicetak. Densitometer digunakan
    untuk mengukur kekentalan tinta dalam tambahan yang keras dan dalam tahapan kasa, dan kemudian nilai halftone dihitung. Ketika nilai yang dihasilkan itu digambar terhadap diagram nilai film yang berhubungan maka dihasilkan karakteristik transfer. Setelah menggunakan lempengan inilah yang disebut dengan karakteristik cetakan.

    Ini valid hanya bagi kombinasi tertentu pada tinta, kertas, cetakan cetakan, lapisan dan lempengan yang  ditentukan. Jika kerja/karya yang sama dicetak pada cetakan yang lain, dengan tinta yang berbeda atau kertas yang berbeda, kemudian karakteristik cetakan akan benar-benar berbeda.
    Gambar ini menunjukkan bagaimana karakteristik 1 berjalan pada sebuah sudut 450. Ia menunjukkan kasus ideal dimana pada cetakan dan film yang identik/sama secara optik, tetapi tak dapat dicapai dibawah kondisi normal. Karaktersitik 2 mereproduksi nilai halftone yang benar benar diukur dalam cetakan. Area yang ditandai antara dua garis menunjukkan dot gain.
    Untuk menentukan dot gain dalam cetakan, jarak sifat tengah merupakan yang paling penting. Karakteristik cetakan menunjukkan bahwa di sinilah nilai halftone bergeser mencapai maksimum. Artinya karakteristik 2 film kasa dapat dinilai dalam cetakan itu (dengan dot gain normal) sehingga dicapai sifat yang dikehendaki.
    Secara praktis, bagaimanapun juga, ini hanya dapat dicapai sebagian saja.



  • READ MORE.......



  • Antonius Bowo Wasono, dkk.



    untuk lebih lengkap dan update tentang illustrator simple tutorial silahkan kunjungi :

    www.illustratorsimpletutorial.blogspot.com


    FOTO REPRODUKSI (FILM MAKING) dan PLATE MAKING

    Akselerasi teknologi di bidang prepress melaju dengan sangat cepat. Produsen mesin-mesin pre-press berlomba untuk membuat mesin yang diproduksi semakin efektif dan efisien. Fenomena ini tentunya
    “mengenakkan” pelaku bisnis di bidang grafika mempunyai banyak pilihan khususnya bagi pengusaha yang bermodal besar. Konsumenpun diuntungkan, karena dari sisi waktu pengerjaannya lebih cepat, kualitas
    cetakan lebih baik, dan tentunya harganyapun juga bersaing.
    Percetakan-percetakan di Indonesia masih banyak ditemui menggunakan plate processor untuk memproses film menjadi acuan siap cetak. Karena investasi untuk menggunakan teknologi Computer to Plate sangat besar dan karakteristik pekerjaannya belum cocok untuk menggunakan teknologi tersebut. Berbeda dengan penggunaan teknologi image setter, yang digunakan untuk mentransfer data digital (dari komputer) menjadi film, masih banyak ditemui. Disamping harganya terjangkau, teknologi image setter lebih fleksibel untuk digunakan berbagai karakteristik pekerjaan, khususnya yang berkaitan dengan oplag.

    Sebelum teknologi image setter berkembang luas di pasaran, proses pembuatan film dari data komputer dipindahkan dulu melalui media kertas atau yang dikenal dengan Computer to Paper kemudian diproses dengan menggunakan kamera reproduksi baik itu kamera vertikal maupun horizontal untuk dipindahkan menjadi film dengan pengembangan manual atau dengan menggunakan film processor.

    Teknologi ini sudah semakin ditinggalkan oleh perusahaan percetakan, karena prosesnya membutuhkan waktu yang lama juga hasilnya kurang maksimal. Pembesaran titik raster (dot) menjadi semakin besar karena
    adanya tahapan demi tahapan yang harus dilalui.
    Penggunaan kamera vertikal maupun horizontal masih banyak dijumpai pada percetakan-percetakan yang mengkhususkan pada jenis atau macam cetakan yang beroplag sedikit atau cetakan-cetakan khusus, misalnya pembuatan stempel, acuan untuk foil, dan sebagainya.
    Untuk mengetahui teknologi ini, sebagai dasar keilmuan memahami teknologi yang berkembang pesat sekarang, dibawah ini diuraikan proses dari data yang dihasilkan komputer berupa kertas menjadi film
    yang siap ditransfer ke pelat cetak.


  • READ MORE.......


  • Antonius Bowo Wasono, dkk.




    untuk lebih lengkap dan update tentang illustrator simple tutorial silahkan kunjungi :

    www.illustratorsimpletutorial.blogspot.com

     
     
     

    Total Pageviews