REPRODUKSI WARNA DENGAN CETAK OFFSET

Quality control cetak offset sangat diperlukan agar terciptanya standarisasi
Sebuah original berupa foto atau slide yang akan diproduksi(diperbanyak) melalui system cetak haruslah dipecah ke dalam 4 warna proses yaitu Cyan,Magenta,Yellow dan black atau dikenal dengan CMYK.
Proses ini dimulai dari tahap digitalisasi melalui scanner. Foto atauslide yang di scan kedalam bentuk data digital disebut gambar bit map, karena terdiri dari kumpulan pixel (picture element).
Banyaknya jumlah pixel dinyatakan dalam isitilah resolusi input.
Misal: sebuah cetakan dengan screen ruling= 150 lpi, diperlukan resolusi input=2x150lpi=300 lpi atau 300 ppi.kemudian gambar bitmap tersebut bersama teks di layout dengan aplikasi grafis yang tersedia pada PC atau Mac.
Gambar bitmap yang telah dipisahkan warna kedalam bentuk CMYK kemudian di output kedalam bentuk dot / raster melalui image setter menjadi lembaran film. Pada saat out put ke imagesetter,harus ditentukan nilai screen ruling (raster), resolusi output, jenis dot,sudut raster dan lain-lain.
Besar kecilnya dot yang dibentuk melalui imagesetter memiliki peran yang sangat penting sebagai acuan permintaan di mesin cetak.Dalam proses pencetakan separasi warna, setiap dot akan saling bertumpuk dengan sudut yang berbeda untuk mendapatkan warna yang sesuai dengan model originalnya.
Permintaan dan Density Cetak
Film separasi yang sudah di out put kemudian dikontak ke pelat melaui mesin platemarking. Besar kecilnya dot pada film separasi juga akan berpindah pada pelat cetak. Variasi penyimpangan bisa saja terjadi apabila :
Waktu penyinaran terlalu lama/cepat
Cairan developer pada mesin prosesor sudah lemah atau terlalu kuat
Proses pencucian pelat dilakukan secara manual
Oleh karena itu untuk menjaga standarisasi pada output pelat harus digunakan ‘Grayscale’ misalnya dari Kodak Polychrome atau ugra, dan lain lain.
Tinta yang tercetak pada kertas sangat dipengaruhi oleh:
Proses pengalihan dari pelat ke blanket
Jenis kertas atau kemampuan daya serap kertas
Karakterisitk/ sifat tinta tersebut, dan lain-lain.
Ketebalan Lapisan Tinta
Bedasarkan standar DIN 16539, Ketebalan tinta pada warna proses direkomendasikan yaitu 0.7-1.1 mikron. Sedangkan pada praktek sehari-hari ketebalan tinta maksimum yang dianjurkan maksimal 3.0 mikron. Secara ideal, proses permintaan harus setipis mungkin namun pencapaian warna atau density tercapai. Hal ini sangat didukung dengan kualitas dari tinta tersebut. Semakin tebal permintaan, maka makin besar pula dot gain atau perbesaran titik yang terjadi dan semakin gelap hasil cetak yang didapat.
Kepekaan tinta pada hasil cetak dinyatakan dalam bentuk density dan diukur melalui alat densitometer.
Hubungan Density dan Ketebalan Tinta
Penambahan ketebalan tinta memiliki batas maksimum,apapbila nilai maksimum dencity sudah tercapai,berapapun penambahan titik tidak akan menambah nilai density. Garis-garis putus menunjukan batas maksimum yang dianjurkan.
Penyimpangan Dot
Perjalanan dot mulai dari pre-press sampai cetak sangat mempengaruhi kualitas cetak dan warna hasil cetak.Perubahan besar/kecil dot dapat disebabkan beberapa faktor antara lain:
Proses kalibrasi pada imagestter (penyinaran dan pencucian film)
Kontak pelat di platermaking (penyinaran dan pencucian hebat)
Di mesin cetak proses pembasahan, penintaan, kekenyalan blanket, tekanan cetak dan lain-lain
Kertas, jenis kertas, dan kehalusan permukaan kertas
Bentuk Perubahan Dot
Pada saat pencetakan di mesin cetak, bentuk dot dapat berubah.Perubahan bentuk dot juga turut mempengaruhi kualitas cetak. Secara umum perubahan bentuk dot dikategorikan sebagai berikut :
Dot gain, yaitu terjadinya pembesaran dot baik secara simetris gradual (teratur), maupun asimetris (memperbesar dengan ujung tak teratur)
Filling in, yaitu pengurangan non aera yang seharusnya bersih tetapi berubah menjadi shadow (samar-samar) atau tertutup sama sekali oleh dot. Umumnya terjadi pada pencetakan diapositif.
Sharpening, yaitu ukuran dot lebih kecil dari ukuran dot film.
Sluring, yaitu bentuk dot berubah memanjang atau oval, baik kearah lateral maupun kearah circumferensial.
Doubling, yaitu bentuk dot berubah menjadi dua,satu merupakan dot sebenarnya dan kedua merupakan dot bayangan.bentuk dot bayangan bergantung arah.
Offseting, yaitu bentuk dot berubah seperti sluring tetapi bagian ujungnya lancip seperti matahari.
Penumpukan Tinta
Penumpukan tinta/ Ink trapping adalah seberapa kuat melekatnya tinta saat mencetak dua warna yang bertumpuk diatas kertas. Hal ini dipengaruhi oleh urutan pencetakan pada mesin cetak ( mesin cetak 1 warna, 2 warna atau 4 warna ).
Penumpukan warna dapat terjadi pada dua kondisi:
Basah diatas basah (contoh mesin 2 warna atau 3 warna)
Basah diatas kering (contoh mesin 1 warna)
Contoh urutan pencetakan standar pada mesin 1,2 dan 4 warna
Mesin 4 warna (basah diatas basah) :
Black+Cyan+Magenta+Yellow
Mesin 2 warna (basah diatas basah):
Cyan+Magenta+kemudian Black+Yellow
Mesin 1 warna (basah diatas kering):
Cyan,Magenta,yellow,Black atau Black,Cyan,Magenta,Yellow
Alat Bantu Pengontrolan Warna
Pada umunya alat bantu yang digunakan untuk pengontrolan warna selain berupa alat ukur seperti spektrondensitometer ada juga print control strip. Pemakaiannya dilakukan pada pelat cetak dan sangat berguna untuk mengontrol parameter warna dan aspek-aspek yang memperngaruhi kualitas cetak seperti: konrol warna solid,control raster halftone, kontrol sulling,dan doubling, kontrol untuk solid traping, kontrol pelat untuk melihat kualitas penyinaran di platemarking.
Quality kontrol pada cetak offset sangat diperlukan agar terciptanya standarisasi, hal ini membutuhkan :
Parameter yang jelas
Diperlukan peralatan densitometer atau spectrophometer
Digunakan alat bantu seperti Print Control Strip untuk mengontrol kualitas cetakan dengan parameter yang jelas.
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi mutu cetakan antara lain; tinta cetak, jenis kertas, kualitas film separasi, kualitas pelat cetak, pengoperasian mesin cetak (SDM), suhu ruangan, kondisi alat ukur, kondisi cairan chemical, dan lain-lain.


(bid/berbagai sumber)




  • READ MORE.......


  • for more details and updates about graphics design please visit.........

    www.graphicsdesignsimple.blogspot.com

    Ringkasan Raster Image Processor work flow Halftone FM Screens Bitmap Ink Presetting

    Raster Image Processor
    menterjemahkan bahasa postscript utk imagesetter 

    imagesetter : mesin yg menghasilkan keluaran resolusi tinggi pd film
    menterjemahkan image mjd raster
    menterjemahkan bitmap mjd halftone

    work flow teknologi untuk meningkatkan kecepatan proses dan kemudahan dalam pengolahan data secara elektronik
    langsung cetak


    RIP(express)

    RipExpress dirancang dengan basis Configurable PostScript Interpreter (CPSI) dari Adobe untuk menginterpretasi file PostScript dengan akurat dan konsisten.

    RipExpress buatan Monotype Systems ini adalah perangkat lunak
    RIP yang serbaguna ini dapat menangani file warna dan monochrome dari PostScript 3

    RipExpress yang mengkombinasikan kinerja yang optimum dengan antar muka ekslusif dan mudah diggunakan
    tersedia untuk platform Sun UltraSPARC dan Window NT di Pentium PC.

    RipExpress adalah sebuah implementasi penuh dari perangkat lunak PostScript 3 dari Adobe
    yang menwarkan peningkatan kinerja dan keuntungan seperti pemrosesan dan percetakan langsung file-file berformat PDF.

    Super Screens diggunakan untuk menunjukan hasil akhir yang terlihat superior. ,
    Dengan Super Screens, 'banding' dapat dihilangkan dari sistem-sistem imagesetting dan direct-to-plate
    dan dapat menghasilkan 4096 tingkat grey pada alat-alat beresolusi tinggi ini.

    Preview warna menyediakan preview warna penuh dari pekerjaan yang telah diRIP pada layar

    Gambar bitmap yang telah dipreview dapat langsung dikirim ke perekam beresolusi tinggi atau
    secara alternatif di cetak ke sebuah proofer warna untuk evaluasi yang lebih dalam.

    Fitur-fitur RipExpress yang mudah digunakan dengan antar muka grafik

    Menggunakan CPSI Adobe untuk menjamin keselarasan sempurna dengan bahasa PostScript 3 murni.

    Output ke Laserbus untuk menghubungkan segala macam recorder dengan menggunakan Personality Interfaces

    Fasilitas input spooling dan hold, dan output spooling dan hold

    Preview halaman berwarna pada layar.

    Halftone dan tabel kalibrasi.

    Sekumpulan 136 fonts yang disediakan secara standar.

    Bermacam input dengan menggunakan Ethertalk, TCP/IP, LPR, drop folder dan input spesial MGS3.

    Penghematan penggunaan media dengan Trim Page yang menghilangkan kelebihan area berwarna putih dibawah halaman

    Film Saving yang secara otomatis memutar halaman kalau dengan begitu bisa menghemat bahan.

    Anamorphic scaling dengan kontrol skala X & Y yang terpisah

    Kompresi dan dekompresi ditempat untuk bitmap file

    Pilihan Tambahan RIP to TIFF: Output dapat disetel untuk menghasilkan file 1 bit TIFF sebagai uncompressed, Packbits, CCITT Huffman, Fax Group 3 dan Fax Group 4.

    OPI dapat menyediakan penunjuk dimana MGS3 dapat menaruh gambar beresolusi tinggi saat mereka login ke sistem
    Kemudian substitusi OPI dapat terjadi pada RIP saat halaman dicetak

    FM Screens: Stochastic screening dengan menggunakan Adobe Brilliant Screens


    PrintExpress Snap Shots PrintExpress/CPM
    adalah sebuah sistem jalur kerja digital yang mencakup sejumlah perangkat lunak
    yang digunakan untuk menghubungkan aplikasi pembuat halaman dan percetakan press.

    PrintExpress menangani tahapan dari menerima sebuah halaman dalam format PostScript atau PDF melalui
    pengeRIPan, pagepairing, spooling, proofing, tracking dan transmisi jarak jauh sampai kepercetakan di tempat yang berbeda-beda

    Kumpulan modul yang mencakup PrintExpress adalah:
    PostScript / PDF Spooler Modul ini menerima file berformat PostScript atau PDF dari sistem lain
    seperti mesin pembuat halaman pada PC atau Mac atau sebuah server OPI.
    Modul ini menggunakan protokol input standar seperti PAP (Apple), TCP/IP, drop file atau dari server OPI MG3.

    Disini file input dispool untuk ditransfer ke spooler lain atau ke fungsi PDF Export
    untuk disimpan sebagai file untuk kepentingan pengarsipan atau untuk digunakan oleh mesin lain.
    PrintExpress RIP Modul PrintExpress RIP menggunakan Adobe PostScript3 CPSI untuk menciptakan file bitmap dari file postscript atau PDF.
    Seperti modul-modul PrintExpress lainnya, beberapa program dapat berjalan disatu platform secara bersamaan

    Kalibrasi warna dan pengaturan gambar lainnya diatur pada tahap ini.
    Beban yang disebabkan oleh program-program RIP yang berjalan dapat diratakan oleh spooler PostScript / PDF

    Bitmap Spoolers Modul ini men'spool' dan membentuk antrian file output dari program RIP disampaikan ke Bitmap Spooler lainnya
    bisa di lokasi percetakan) atau ke modul lain untuk pemrosesan tambahan seperti pemasangan halaman, double burning, rotation

    Bitmap Color Proof Opsi ini menerima seperasi bitmap beresolusi tinggi untuk dikombinasi
    dan diproses menjadi sebuah layout proof pada plotter berwarna seperti HP Design Jet
    Semua ini bisa dijalankan melalui Laserbus atau Ethernet.

    Tidak seperti cara-cara yang mengharuskan pekerjaan diRIP sendiri-sendiri untuk proofing
    cara ini memastikan agar proof serupa dengan cetakan akhir dan tidak ada variasi yang disebabkan oleh RIP pada saat menghasilkan pemisahan

    Bitmap Ink Presetting
    Opsi ini menghitung luas area yang menggunakan tinta dari pemisahan bitmap dan memformatnya untuk kontrol percetakan

    FOTO REPRODUKSI (FILM MAKING) dan PLATE MAKING

    Akselerasi teknologi di bidang prepress melaju dengan sangat
    cepat. Produsen mesin-mesin pre-press berlomba untuk membuat mesin
    yang diproduksi semakin efektif dan efisien. Fenomena ini tentunya
    “mengenakkan” pelaku bisnis di bidang grafika mempunyai banyak
    pilihan khususnya bagi pengusaha yang bermodal besar. Konsumenpun
    diuntungkan, karena dari sisi waktu pengerjaannya lebih cepat, kualitas
    cetakan lebih baik, dan tentunya harganyapun juga bersaing.
    Percetakan-percetakan di Indonesia masih banyak ditemui
    menggunakan plate processor untuk memproses film menjadi acuan
    siap cetak. Karena investasi untuk menggunakan teknologi Computer to
    Plate sangat besar dan karakteristik pekerjaannya belum cocok untuk
    menggunakan teknologi tersebut. Berbeda dengan penggunaan
    teknologi image setter, yang digunakan untuk mentransfer data digital
    (dari komputer) menjadi film, masih banyak ditemui. Disamping harganya
    terjangkau, teknologi image setter lebih fleksibel untuk digunakan
    berbagai karakteristik pekerjaan, khususnya yang berkaitan dengan
    oplag.

    Sebelum teknologi image setter berkembang luas di pasaran,
    proses pembuatan film dari data komputer dipindahkan dulu melalui
    media kertas atau yang dikenal dengan Computer to Paper kemudian
    diproses dengan menggunakan kamera reproduksi baik itu kamera
    vertikal maupun horizontal untuk dipindahkan menjadi film dengan
    pengembangan manual atau dengan menggunakan film processor.
    Teknologi ini sudah semakin ditinggalkan oleh perusahaan percetakan,
    karena prosesnya membutuhkan waktu yang lama juga hasilnya kurang
    maksimal. Pembesaran titik raster (dot) menjadi semakin besar karena
    adanya tahapan demi tahapan yang harus dilalui.


    Antonius Bowo Wasono, dkk.







  • READ MORE.......


  • for more details and updates about graphics design please visit.........

    www.graphicsdesignsimple.blogspot.com

    Mengerjakan scanning gambar atau mengolah gambar dari kamera digital

    Elemen grafis yang berupa gambar dapat kita peroleh dengan cara memindai gambar yang sudah ada atau me-scanner dan dari kamera digital. Untuk menghasilkan kualitas cetakan yang baik, resolosi gambar
    yang cukup sangat dibutuhkan. Ada beberapa cara agar hasil scan yang kita hasilkan sesuai dengan harapan, yaitu :
    1. Scan gambar dengan resolusi yang cukup, minimal 300 dpi.
    2. Usahakan gambar yang discan melekat sempurna pada bidang kaca scanner.
    3. Pada saat me-scan sebaiknya Menu Unsharp masking diaktifkan, meskipun nantinya akan dapat dibantu di menu Sharpness di Photoshop.
    4. Setelah diperoleh hasil scan, lakukan pengeditan ulang di adobe photoshop, terutama dilakukan pada posisi dan croping terlebih dahulu, dan kemudian pada kualitas level; dengan mengatur levelnya, sehingga didapat hasil warna yang tajam.
    5. Jangan lupa bersihkan permukaan scanner, sehingga didapat bersih dari noda-noda yang tidak diinginkan. Scanner yang mempunyai kemampuan menangkap gambar yang tinggi akan sangat berpengaruh terhadap kualitas gambar yang kita peroleh.

    Antonius Bowo Wasono, dkk.


  • READ MORE.......


  • for more details and updates about graphics design please visit.........

    www.graphicsdesignsimple.blogspot.com

     
     
     

    Total Pageviews